Ternate,IH – Perairan timur Indonesia menyimpan berbagai keunikan hayati, salah satunya adalah keberadaan hiu ‘berjalan’ atau walking shark. Spesies ini tidak hanya langka, tetapi juga unik karena cara bergeraknya yang tidak biasa. Di antara wilayah yang menjadi habitat penting hiu berjalan, Maluku Utara tercatat sebagai salah satu rumah bagi spesies endemik ini.

Hiu berjalan memiliki nama ilmiah Hemiscyllium, dan dikenal sebagai hiu yang dapat “berjalan” di dasar laut dengan menggunakan sirip dadanya. Pergerakannya yang menyerupai berjalan ini membantunya berpindah di antara karang-karang dangkal, terutama saat air surut atau di malam hari saat mencari mangsa.

Dari sembilan spesies hiu berjalan yang dikenal di dunia, enam di antaranya ditemukan di perairan Indonesia, termasuk di wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Ini menjadikan Indonesia sebagai pusat utama keberagaman spesies hiu unik tersebut.

Secara khusus, perairan Maluku Utara menjadi salah satu lokasi penting bagi konservasi hiu berjalan karena masih memiliki kawasan terumbu karang yang relatif sehat. Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di daerah ini menyediakan lingkungan yang ideal bagi hiu berjalan untuk berkembang biak dan berburu makanan.

Hiu berjalan tergolong sebagai spesies endemik, artinya hanya bisa ditemukan di wilayah tertentu dan tidak hidup di tempat lain di dunia. Karena itu, keberadaannya di Maluku Utara sangat bernilai tinggi, baik secara ekologis maupun ilmiah.

Sayangnya, keberadaan hiu berjalan kini semakin terancam. Sejak tahun 2020, seluruh spesies dalam genus Hemiscyllium telah masuk ke dalam Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Mereka dikategorikan sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan.

Ancaman terbesar bagi hiu berjalan berasal dari aktivitas manusia. Penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, perusakan terumbu karang, pencemaran laut, serta meningkatnya pembangunan pesisir mengancam habitat alami hiu ini di perairan Maluku Utara.

Selain itu, perubahan iklim juga memberikan dampak besar. Naiknya suhu air laut dan pemutihan karang menyebabkan berkurangnya habitat ideal bagi hiu berjalan untuk mencari makan dan berlindung dari predator.

Para ahli konservasi menyatakan bahwa perlindungan terhadap hiu berjalan tidak bisa ditunda. Konservasi berbasis masyarakat di Maluku Utara menjadi strategi penting, dengan melibatkan nelayan dan warga lokal untuk menjaga ekosistem laut tetap sehat.

Kegiatan edukasi dan penelitian juga perlu diperkuat. Universitas lokal, lembaga riset, hingga komunitas penyelam dapat memainkan peran dalam pemantauan populasi hiu berjalan serta mendokumentasikan perilaku uniknya di alam liar.

Di sisi lain, potensi wisata bahari di Maluku Utara juga dapat dikembangkan secara berkelanjutan dengan mempromosikan ekowisata berbasis hiu berjalan. Wisata edukatif ini tidak hanya meningkatkan ekonomi lokal, tetapi juga mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga spesies langka tersebut.

Melindungi hiu berjalan berarti menjaga keseimbangan ekosistem laut. Jika dikelola dengan baik, Maluku Utara tidak hanya akan dikenal sebagai wilayah kaya akan budaya dan sejarah, tetapi juga sebagai surga laut bagi spesies langka dunia.