Ternate,IH – Di jantung Pulau Halmahera, Maluku Utara, terbentang sebuah surga alam yang menjadi rumah bagi puluhan spesies burung endemik. Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, yang luasnya mencapai lebih dari 167 ribu hektare, menjadi habitat alami bagi sekitar 106 jenis burung, termasuk 25 spesies endemik yang hanya ditemukan di wilayah ini.
Salah satu burung endemik yang paling ikonik dari kawasan ini adalah Burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii). Burung ini disebut-sebut sebagai “cendrawasih kecil dari Maluku Utara” karena keelokan bulunya dan tarian khasnya yang memukau. Tak heran jika banyak yang menjulukinya sebagai “permata hutan” dari Halmahera.
Burung Bidadari jantan tampil mencolok dengan mahkota berwarna ungu mengilap, dada hijau zamrud, dan bulu berkilau cokelat zaitun. Sementara itu, burung betinanya lebih sederhana, berukuran lebih kecil dan memiliki ekor yang lebih panjang dibandingkan jantan. Meski tampil sederhana, sang betina justru menjadi penentu pasangan dalam musim kawin.
Dalam musim kawin, burung jantan akan menampilkan tarian genit nan anggun untuk memikat perhatian betina. Ia akan membentangkan sayapnya, memperlihatkan warna-warna cerahnya, dan menari di atas dahan. Betina kemudian akan memilih jantan dengan tampilan dan gerakan terbaik sebagai pasangannya. Ritual ini menjadi tontonan luar biasa yang mengundang decak kagum para pengamat burung.
Burung yang oleh masyarakat lokal dikenal sebagai weka-weka ini, hidup di hutan dataran rendah dan memakan serangga kecil, artropoda, serta buah-buahan. Aktivitasnya lebih sering terlihat di pagi dan sore hari. Meski cantik dan unik, populasi Burung Bidadari terus menurun akibat deforestasi dan perburuan liar.
Hutan-hutan di Halmahera yang menjadi habitat utama burung ini perlahan mengalami kerusakan akibat pembalakan, konversi lahan, dan tambang. Selain itu, burung jantan yang memiliki bulu mencolok kerap menjadi incaran kolektor ilegal. Penurunan jumlah populasi burung Bidadari sudah tercatat sejak tahun 1980-an.
Namun, harapan untuk kelestarian spesies ini masih terbuka lebar. Taman Nasional Aketajawe-Lolobata berperan penting sebagai kawasan konservasi dan perlindungan satwa endemik, termasuk Burung Bidadari. Wilayah ini menyediakan ekosistem yang relatif aman dan alami untuk berkembang biak dan mencari makan.
Salah satu lokasi terbaik untuk mengamati Burung Bidadari Halmahera adalah Kali Batu Putih, di Kabupaten Halmahera Barat. Lokasinya hanya sekitar 20 menit berkendara dari pusat kota Jailolo, dan menjadi salah satu titik favorit para pengamat burung nasional maupun mancanegara yang ingin melihat tarian kawin burung ini secara langsung.
Keunikan burung ini juga pernah menarik perhatian dunia internasional. Burung Bidadari Halmahera pertama kali ditemukan oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1858 di Pulau Bacan. Ia bahkan menyebutnya sebagai “bird of paradise” dalam laporannya yang kemudian menjadi kajian penting para ahli zoologi di Inggris. Nama ilmiah Semioptera wallacii diberikan sebagai penghargaan kepada Wallace.
Selain Burung Bidadari, taman nasional ini juga menjadi rumah bagi spesies langka lainnya seperti kakatua putih (Cacatua alba), kasturi ternate (Lorius garrulus), paok halmahera (Pitta maxima), dan cekakak murung (Todiramphus funebris). Banyak dari burung-burung ini telah masuk dalam daftar merah IUCN karena ancaman yang dihadapinya.
Menurut data IUCN, kawasan Aketajawe-Lolobata menjadi habitat bagi beberapa spesies burung paling terancam secara global, termasuk mandar gendang dan cikukua hitam (Philemon fuscicapillus). Konservasi di kawasan ini tidak hanya penting bagi Maluku Utara, tetapi juga bagi keberlanjutan keanekaragaman hayati dunia.
Taman Nasional Aketajawe-Lolobata bukan sekadar kawasan lindung, tetapi juga pusat penelitian, pendidikan lingkungan, dan ekowisata. Upaya pelestarian di kawasan ini diharapkan bisa menjadi model konservasi berbasis komunitas yang mampu menjaga kekayaan alam Halmahera untuk generasi mendatang.





Tinggalkan Balasan