
WEDA- Bulan Ramadan selalu punya cara istimewa untuk menghadirkan rasa rindu. Bagi banyak orang, bulan suci ini identik dengan perjalanan pulang ke kampung halaman. Kembali ke pelukan keluarga, menikmati hidangan sahur buatan ibu, hingga berbuka bersama orang-orang tercinta. Suasananya terasa lebih tenang, hangat, dan penuh makna. Namun tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.
Di kawasan kerja PT IWIP, Ramadan tetap berjalan di tengah ritme pekerjaan yang nyaris tak berubah. Di kantor utama, layar komputer tetap menyala sejak pagi, suara ketikan keyboard masih menjadi irama sehari-hari, dan para karyawan tetap tenggelam dalam tanggung jawab masing-masing. Meski begitu, ada nuansa berbeda yang perlahan terasa, namun justru menghadirkan kedekatan.
Bagi Ika dan Uny, dua karyawati dari departemen berbeda, Ramadan di site bukanlah pengalaman pertama. Mereka mengaku suasananya tidak terlalu berbeda dari hari kerja biasa. Namun ada satu momen yang selalu dinanti yakni buka puasa bersama.
“Biasanya cuma satu atau dua kali bukber, tapi itu yang paling ditunggu,” ujar Uny sambil tersenyum. Di hari-hari lainnya, staf Departemen HR Development itu lebih sering sahur dan berbuka bersama teman sekamar di mess, menjadikan mereka seperti keluarga kecil di perantauan.
Sementara itu, Ika yang bekerja di Departemen General Affairs memilih menciptakan suasana Ramadan dengan caranya sendiri. Keterbatasan waktu dan akses transportasi membuatnya jarang keluar setelah bekerja. Sebagai gantinya, ia memasak sendiri untuk sahur dan menyiapkan takjil sederhana.
“Kadang bikin kue-kue kecil buat buka puasa. Lebih praktis juga,” katanya.
Rutinitas yang sama setiap hari justru membuat waktu terasa berjalan cepat. Baik Ika maupun Uny sepakat, Ramadan di site sering terasa singkat.
“Kalau puasa di sini, rasanya tiba-tiba sudah Lebaran,” ujar mereka sambil tertawa.
Menariknya, semarak Ramadan ternyata tidak hanya dirasakan oleh karyawan muslim. Suasana berbagi juga dirasakan rekan-rekan non muslim yang ikut menikmati takjil gratis di kantin mess karyawan.
Yuni, salah satu karyawan beragama Kristen, justru mengaku selalu menantikan datangnya Ramadan. Baginya, bulan ini identik dengan kebiasaan unik dimana dia biasanya mengumpulkan kurma dan camilan takjil.
“Seru saja, kurmanya bisa sampai satu toples,” katanya antusias.
Bagi Yuni, Ramadan menjadi momen kebersamaan yang melampaui perbedaan keyakinan. Ia ikut merasakan hangatnya suasana berbagi, sekaligus berharap rekan-rekannya yang berpuasa dapat menjalankan ibadah dengan lancar hingga akhir.
Pada akhirnya, di tanah rantau, Ramadan mungkin tanpa keluarga kandung di sisi. Namun di antara kesibukan pekerjaan, sahur sederhana di mess, dan tawa saat berbuka bersama, para perantau menemukan makna lain tentang pulang. Kebersamaan bisa tumbuh di mana saja, bahkan yang jauh dari rumah.(tim)





Tinggalkan Balasan