
Secara global, data menunjukkan bahwa sekitar 80–85 persen tenaga kerja di industri tambang didominasi laki-laki. Pekerjaan di sektor ini kerap dianggap maskulin, berat, dan berisiko tinggi. Namun, stigma tersebut perlahan mulai bergeser. Kini, semakin banyak perempuan yang terlibat di industri tambang dan berprofesi sebagai operator crane, dump truck, maupun alat berat lainnya.
Salah satunya adalah Rina Rumfot, karyawan di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) yang telah tujuh tahun bersahabat dengan hoist crane, sebuah alat yang dirancang untuk mengangkat dan menurunkan beban berat secara vertikal.
Perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai admin dan mandor pengawas di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate itu tak pernah menyangka akan berkarir di kawasan industri di Halmahera Tengah yang identik dengan pekerjaan berat dan didominasi laki-laki.
Kiprah Rina di industri ini berawal dari keinginannya untuk mengubah hidup. Sebagai tulang punggung keluarga, ia berharap dapat memperoleh penghasilan yang lebih layak di IWIP demi kehidupan yang lebih sejahtera. Kala itu, Rina tak banyak berharap ketika memutuskan memasukkan berkas lamaran.
“Setelah lima bulan saya belum juga dipanggil, sementara saya khawatir masa berlaku Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) hampir habis,” kenangnya.
Takdir berkata lain. Memasuki bulan keenam, suatu pagi Rina menerima telepon dari pihak IWIP untuk mengikuti tahap wawancara dan medical check up. Setelah dinyatakan lolos, ia ditempatkan di Departemen General Affairs (GA) bagian Mini Shop.
Tak lama berselang, Rina akhirnya dimutasi ke Business Unit of Ferronickel. Ia menyambut kabar tersebut dengan penuh semangat, meski sejumlah rekan mempertanyakan keputusannya. Pekerjaan di ferronikel dianggap berisiko tinggi, panas, dan berada di ketinggian.
“Mereka tanya saya yakin mau pindah? Di sana itu panas dan tempatnya tinggi,” katanya. Namun tekadnya sudah bulat, dan memang bekerja di Business Unit of Ferronickel adalah departemen yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
Selama mengikuti pelatihan intensif, Rina mempelajari dasar-dasar pengoperasian alat berat hingga akhirnya menguasai teknik mengoperasikan crane. Setelah dinilai kompeten, ia diangkat menjadi operator hoist crane. Berkat keuletan dan kerja kerasnya, Rina kemudian dipromosikan menjadi wakil foreman lalu kini telah menjadi foreman.
Di balik pencapaiannya, Rina tak menampik kerasnya dunia kerja yang dijalani. Ia pernah menghadapi komentar miring yang meragukan kemampuannya karena dianggap tidak cocok bekerja di “dunia laki-laki”. Ia juga harus memimpin 18 anggota tim dengan karakter berbeda-beda, serta menerima teguran dari atasan. Tak jarang, ia merasa sedih dan menangis dalam diam.
Namun, Rina memilih tetap kuat demi menghidupi anak-anak dan orang tuanya di rumah.
“Cari uang itu susah, apalagi saat ini suami saya belum bekerja karena sebelumnya kena PHK. Jadi saya yang menggantikan membiayai kebutuhan rumah tangga plus biaya untuk orang tua di kampung,” ungkap perempuan berdarah Seram-Ambon itu.
Berkat motivasi yang kuat, peraih penghargaan karyawan terbaik tahun 2020 ini berhasil melakukan lebih dari sekadar membiayai keluarga. Ia membantu membangun rumah untuk orang tua, membiayai operasi mertua, membeli motor, hingga merintis usaha kecil-kecilan.
“Namanya bekerja itu tidak selamanya mulus. Namun saya bersyukur ada di titik ini, dan IWIP memberikan sangat lebih dari cukup,” tutupnya.
Pada akhirnya, kisah Rina menjadi bukti bahwa batasan sering kali hanya ada dalam stigma, bukan pada kemampuan. Di tengah panasnya tungku feronikel dan tingginya risiko pekerjaan, Rina menunjukkan bahwa ketangguhan bukan soal jenis kelamin, melainkan tentang keberanian untuk melangkah dan konsistensi untuk bertahan.(tim)





Tinggalkan Balasan