Oleh : M.Nur Zaint Mahasiswa Makassar

 

Ada ironi yang sulit diabaikan ketika sebuah kota berbicara tentang “pusaka” di saat yang sama justru menghilangkan sebagian warisan yang telah menjadi bagian dari wajah kota itu sendiri.

 

Publik Ternate kembali memperbincangkan penimbunan kolam air mancur di kawasan Landmark Ternate. Alasan yang dikemukakan adalah kebutuhan pelaksanaan hajatan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Secara teknis, alasan tersebut mungkin dapat dipahami. Namun secara filosofis, keputusan itu memunculkan pertanyaan yang lebih besar apakah kita sedang merawat warisan, atau justru menguburnya?

 

Pusaka pada hakikatnya adalah penghormatan terhadap jejak perjalanan. Ia lahir dari kesadaran bahwa setiap generasi mewarisi sesuatu dari generasi sebelumnya. Karena itu, pusaka tidak hanya berkaitan dengan bangunan tua atau benda bersejarah, tetapi juga karya-karya publik yang telah menjadi bagian dari identitas kota dan memori masyarakat.

 

Dalam konteks landmark Ternate, perubahan demi perubahan yang terjadi tidak lagi dibaca sekadar sebagai urusan teknis. Pergantian huruf landmark, perubahan sculpture, hingga penimbunan kolam air mancur membentuk rangkaian peristiwa yang sulit dilepaskan dari persepsi publik tentang upaya mengurangi jejak pemerintahan terdahulu.

 

Lebih jauh lagi, kolam air mancur bukan hanya sebuah cekungan berisi air. Ia merupakan simbol kemajuan teknologi yang pernah dihadirkan di ruang publik kota. Sistem air mancur menari, pencahayaan artistik, sistem pompa, kontrol elektronik, dan integrasi desain lanskap merupakan representasi dari investasi pengetahuan, teknologi, dan estetika yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

 

Ketika infrastruktur semacam itu ditimbun dan diubah menjadi ruang biasa, yang terjadi bukan sekadar perubahan fungsi ruang. Secara simbolik, terjadi degradasi teknologi. Sebuah fasilitas yang dirancang untuk bergerak, menyala, dan menciptakan pengalaman visual bagi masyarakat direduksi menjadi bidang datar tanpa karakter teknologi yang sebelumnya melekat.

 

 

Secara filosofis, peristiwa ini dapat dimaknai sebagai perubahan dari simbol kemajuan menuju simbol penyederhanaan. Dari ruang yang merepresentasikan inovasi menjadi ruang yang kehilangan unsur inovasinya. Dari sebuah karya yang dirancang untuk menciptakan daya tarik publik menjadi ruang yang fungsinya semakin generik dan biasa.

 

Padahal dalam banyak kota modern di dunia, perkembangan tidak dilakukan dengan menghilangkan capaian teknologi yang sudah ada. Yang dilakukan adalah meningkatkan, memperbaiki, dan mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam kebutuhan baru. Kemajuan biasanya bersifat akumulatif, bukan regresif.

 

Dalam teori memori kolektif, masyarakat tidak hanya mengingat peristiwa, tetapi juga simbol-simbol yang mewakili suatu periode pembangunan. Karena itu, ketika sebuah elemen kota yang memiliki nilai simbolik dan teknologi dihilangkan, masyarakat sering memaknainya sebagai hilangnya sebagian cerita tentang perjalanan kota itu sendiri.

 

Di sinilah letak ironi terbesar. Sebuah kegiatan yang mengatasnamakan Kota Pusaka justru berlangsung di atas ruang yang sebelumnya merupakan salah satu bentuk warisan pembangunan kota. Kata “pusaka” mengandung makna merawat, menjaga, dan meneruskan. Sedangkan penimbunan, secara harfiah maupun simbolik, identik dengan menutup dan mengubur.

 

Tentu setiap pemerintahan memiliki hak untuk menentukan arah pembangunan sesuai visinya. Namun sejarah menunjukkan bahwa kota-kota besar tidak dibangun dengan cara menghapus jejak pendahulu, melainkan dengan menambahkan lapisan-lapisan baru di atas fondasi yang telah ada. Sebab keberlanjutan adalah inti dari peradaban kota.

 

Jika setiap pergantian kekuasaan selalu diikuti perubahan terhadap simbol-simbol yang identik dengan pemerintahan sebelumnya, maka yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah kolam air mancur. Yang dipertaruhkan adalah budaya menghargai karya, menghormati investasi publik, dan menjaga kesinambungan sejarah pembangunan.

 

Pada akhirnya, masyarakat mungkin tidak hanya melihat hilangnya kolam air mancur. Mereka melihat sesuatu yang lebih dalam: transformasi sebuah simbol kemajuan menjadi ruang biasa, perubahan sebuah karya teknologi menjadi bidang yang kehilangan makna asalnya, dan ironi ketika warisan dibicarakan sambil warisan itu sendiri perlahan ditimbun.

 

Karena pusaka sejatinya bukan hanya apa yang diwariskan oleh masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga memperlakukan warisan serta kebijaksanaan kita untuk tidak menghapus jejak yang suatu hari akan menjadi sejarah saat kekuasaan berada ditangan kita.