WEDA- Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Halmahera Tengah (Halteng) mendesak kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas para pelaku Pembunuhan yang tejadi di Desa Bobane Jaya Kecamatan Patani Barat pada Kamis (2/4) lalu.

 

Rentetan peristiwa nahas mulai dari teror hingga pembunuhan yang terjadi di Hutan Halmahera Tengah bukan baru pertama kali terjadi, peristiwa serupa sudah berulang kali, dan hingga kini belum terungkap siapa pelaku dan otak di balik kejahatan ini.

 

Polisi mestinya sudah ada petunjuk dari peristiwa yang berulang ini, untuk mengungkap para pelaku. Untuk Halmahera Tengah, sejak Tahun 2012 tepatnya malam Tahun baru, 7 orang Warga Desa Dotte Kecamatan Weda Timur menghilang tanpa jejak di lautan. 2019 Salah satu Warga Messa 2 Kecamatan Weda Timur, ditemukan tak bernyawa dikebun kelapa miliknya yang berjarak kurang lebih 100 meter dari jalan Utama.

 

Selanjutnya Pada Tahun 2021 Tragedi Kali Gowonle yang memilukan 3 orang menjadi Korban, Beberapa bulan kemudian, warga Patani Barat kembali di teror. Kemudian pada Tahun 2023 Warga Patani Timur diserang OTK, dan hanya berselang 1 hari, Warga Desa Dotte Kecamatan Weda Timur kembali di serang di Kali, 1 orang menjadi korban, pahanya terkena anak panah. Setelah itu, Pada Tahun 2025, Warga Dotte kembali diserang saat hendak mengambil kerang di sungai, 1 orang terkena panah.

 

Kemudian belum sampai 1 Tahun, Kini peristiwa nahas itu terjadi lagi di Desa Bobane Jaya Kecamatan Patani Barat, seorang pemuka agama dan mantan kepala Desa, ditemukan tak bernyawa dikebun miliknya yang berjarak kurang lebih 3 kilometer dari perkampungan.

 

Dari rentetan kasus ini, Pihak kepolisian rasanya tidak mempunyai jawaban pasti atas penyelesaian setiap kasus pembunuhan ini.

 

Polisi seperti tidak berdaya untuk mengungkap siapa pelaku di balik teror yang terus menghantui dan memakan korban manusia ini. Padahal dari beberapa kasus yang terjadi, polisi telah mengantongi sejumlah alat bukti, termasuk melakukan Autopsi terhadap korban di Kali Gowonle itu.

 

“Tapi kenapa belum juga bisa mengungkap dalang dan pelaku di balik teror dan pembunuhan yang setiap hari menghantui warga ini, kami patut menduga jangan-jangan Polisi sudah menghantui pelaku tapi karena ada alasan lain sehingga ini dibiarkan. Kami tidak mencampuri urusan kerja kalian tapi kemi berhak untuk bertanya sudah sejauh mana langkah dari pihak kepolisian,”ucap Ketua Pemuda Muhammadiyah Halteng Supriono Sufrin.

 

Supriono mengatakan, rasa aman adalah hak dasar dari setiap Warga Negara, sehingga Polisi sebagai pengayom dan pelindung Masyarakat harusnya tidak membiarkan masalah ini terus menghantui aktifitas warga, apalagi para petani.

 

Dia menyarankan agar polisi mengerahkan seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) di tubuh Polri, agar bisa mengungkapkan pelaku ini.

 

“Kasus pembunuhan di hutan Halmahera Tengah ini kalau ibarat penyakit, itu sudah masuk dalam kategori Kronis, karena sudah cukup lama dibiarkan tanpa kejelasan,”jelasnya.

 

Kata Supriono, kasus yang terjadi hingga memunculkan kemarahan warga, sehingga terjadinya bentrok di kecamatan Patani Barat adalah kelalaian dari pihak keamanan dalam mendeteksi segala kemungkinan yang bisa terjadi.

 

“Polisi lambat mengupdate informasi, padahal rentang waktu dari penemuan mayat hingga terjadi bentrok itu, kurang lebih 13 jam, waktu yang begitu banyak, harusnya Pihak keamanan sudah bisa mengambil langkah-langkah preventif dengan menghadirkan personil di Kecamatan Patani barat, pasca penemuan mayat itu, bukan nanti sudah terjadi bentrok baru kerahkan personil untuk turun,”tutup Supriono yang juga sebagai Sekretaris PWI Halteng .(tim)