WEDA – Desa Umiyal yang terletak di Pulau Yoi Kecamatan Pulau Gebe Kabupaten Halmahera Tengah mencatatkan sejarah baru bagi sektor pemberdayaan pesisir di Maluku Utara.

 

Desa ini berhasil mewujudkan pengelolaan tambak garam grosok modern pertama di provinsi Maluku Utara.Kesuksesan pembangunan tambak garam ini merupakan buah dari implementasi Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) yang digagas oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

 

Program pendanaan dan pendampingan ini mulai digulirkan di Desa Umiyal pada akhir tahun 2025 lalu dan kini telah menunjukkan hasil yang membanggakan.

 

Kehadiran teknologi modern ini membawa perubahan besar bagi masyarakat Pulau Yoi. Dahulu, warga setempat terbiasa membuat garam secara tradisional dengan cara memasak langsung air laut dalam waktu yang sangat lama.

 

“Untuk bisa menghasilkan garam, setidaknya kami harus memasak air laut hingga 4 sampai 5 hari lamanya,” ungkap Om Ibe, salah satu warga di Desa Umiyal.

 

Menurutnya, proses melelahkan itu juga menghabiskan kayu bakar dalam jumlah yang tidak sedikit.

 

“Kami biasanya bikin garam tradisional ini hanya untuk mencukupi kebutuhan membuat ikan garam  atau biasa disebut dengan ikan asin,” tuturnya.

 

Melalui sistem tambak modern yang kini diterapkan, efisiensi produksi meningkat drastis tanpa lagi ketergantungan pada kayu bakar.

 

Diketahui panen perdana tambak pertama 108,7 ons, panen tambak kedua 155 kg. Sehingga dijumlah secara keseluruhan mencapai 263,7 ons. Berdasarkan hasil survei harga garam 1 kg dengan harga Rp10.000 sedangkan untuk garam dengan berat 50 kg dengan harga Rp350.000.00. Apabila program ini mendapat dukungan, bisa dipastikan perekonomian masyarakat bisa berkembang.

 

Kepala Desa Umiyal, Buhari Gasim, menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus harapan besar agar kegiatan usaha tambak garam ini mendapatkan perhatian dan dukungan baik dari dari pemerintah Kabupaten maupun pemerintah Provinsi dan pemerintah Pusat

 

“Kami berharap keberhasilan panen perdana ini dapat disupport oleh pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi Maluku Utara,” ujarnya.

 

Buhari menekankan  wilayah Pulau Gebe selama ini dikenal luas sebagai pusat industri ekstraktif (pertambangan). Oleh karena itu, kehadiran tambak garam modern ini diharapkan mampu menjadi poros ekonomi baru bagi masyarakat di desa Umiyal yang ramah lingkungan.

 

“Dengan inovasi yang kami lakukan melalui program TEKAD ini, kami optimis sektor ini dapat dikembangkan lebih luas lagi. Target utamanya adalah untuk membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat di Desa Umiyal secara berkelanjutan,”terangnya.

 

Fasilitas produksi garam berskala modern ini dikelola secara langsung oleh kelompok demplot (demostration plot) Tambak Garam Talaga Ijo Umiyal. Inovasi ini memadukan potensi alam pesisir Pulau Yoi yang memiliki kualitas air laut yang jernih, dengan sentuhan teknologi tepat guna untuk menghasilkan garam yang lebih bersih, berkualitas, dan memiliki waktu panen yang lebih efisien dibandingkan metode konvensional.

 

“Kehadiran tambak garam modern ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat desa pesisir mampu berinovasi jika diberikan pendampingan dan fasilitas yang memadai melalui program TEKAD,” jelas perwakilan pengelola.

 

Melalui program TEKAD, kelompok Tambak Garam Talaga Ijo Umiyal tidak hanya diberikan bantuan infrastruktur fisik, tetapi juga pelatihan mengenai teknik kristalisasi air laut tingkat lanjut, manajemen kualitas air, hingga tata cara pengemasan produk yang bernilai ekonomis.

 

Selain itu, ke depannya, tambak garam modern yang dikelola oleh kelompok Talaga Ijo Umiyal ini ditargetkan menjadi sentra percontohan (role model) bagi desa-desa pesisir lainnya, tidak hanya di Kabupaten Halmahera Tengah, tetapi juga di seluruh Maluku Utara. Transformasi ekonomi di ujung timur Indonesia kini mulai membuahkan hasil nyata, mengubah air laut menjadi butiran kristal yang mensejahterakan masyarakat desa.(tim)