Keterbatasan ekonomi tidak mematahkan langkah Dahlia Abubakar. Perempuan asal Desa Waigitang, Makian, Halmahera Selatan ini membuktikan bahwa perempuan mampu beradaptasi, bertahan, dan berkarier di tengah situasi yang tidak mudah.

Dahlia sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (STIPRAM), Yogyakarta. Namun, impiannya untuk menyelesaikan studi harus terhenti. Sebuah panggilan dari sang kakak menjadi titik balik hidupnya. Sebuah permintaan untuk mempertimbangkan berhenti kuliah dan pulang ke kampung halaman.

“Suatu hari melalui pesan WA, kakak saya minta waktu untuk menelpon. Ditelpon, dia minta untuk mempertimbangkan soal berhenti kuliah dan pulang,” kenangnya.

Sang kakak, Rustam Hi. Ahmad yang bekerja sebagai staff di departemen Public Utilities & Power Plant (PUPP) IWIP membujuknya dengan bercerita tentang peluang bekerja sebagai penerjemah bahasa Mandarin di PT IWIP, dengan tawaran gaji yang cukup menjanjikan. Untuk itu, meminta sang adik untuk tidak lanjut kuliah dan ambil kursus Bahasa Mandarin saja supaya bisa bekerja di perusahaan seperti dirinya.

Kabar itu terasa berat. Dunia seolah berhenti sejenak bagi perempuan kelahiran 1 Maret itu. Ia mengaku butuh waktu untuk mencerna kenyataan yang harus dihadapi. Antara menghentikan studi pariwisatanya dan beralih fokus mempelajari bahasa Mandarin. Sementara, keinginan untuk lanjut studi begitu menggebu-gebu, juga rasa malu terhadap teman-teman sepantaran terus berkuliah.

Di sisi lain, ia harus menyadari keterbatasan yang ada. Sang kakak satu-satunya penopang utama biaya hidup dan kuliahnya selama merantau. Ayah telah lama berpulang, tinggal sang ibunda dengan usaha kecil-kecilan di kampung halaman. Tak dipungkiri, kebutuhan biaya pendidikan menjadi semakin sulit dipenuhi. Dahlia pun mulai menerima keadaan.

Keputusan akhirnya diambil. Lia, sapaan akrabnya, memilih berhenti kuliah dan melanjutkan belajar bahasa Mandarin secara serius.

“Untuk belajar (bahasa Mandarin) saya sempat pindah-pindah,” katanya.

Perjalanan belajar membawanya hingga ke Pare, Kediri, Jawa Timur. Tempat ia menyelesaikan pembelajaran hingga level HSK (Hànyǔ Shuǐpíng Kǎoshì) 4, sebuah standar kemahiran menengah yang menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya.

Lia kemudian mencoba berbagai peluang kerja. Setelah melalui proses wawancara, ia akhirnya diterima di PT IWIP pada akhir 2022. Meski belum mengetahui penempatan kerjanya, ia tetap bersyukur atas kesempatan tersebut.

Tanpa latar belakang kesehatan, perempuan 24 tahun itu ditempatkan sebagai penerjemah di Weda Bay Medical Clinic (WMC). Berbeda dengan studi pariwisatanya, memaksanya untuk mempelajari berbagai istilah medis, mulai dari jenis obat, penyakit, hingga diagnosa pasien, baik dalam bahasa Indonesia maupun Mandarin.

“Sampai di sini barulah saya belajar lagi kosakata baru soal obat, penyakit, diagnosa pasien dan sebagainya. Karena selama kursus itu kita diajarkan basic, percakapan sehari-hari, tapi di sini harus spesifik kesehatan. Jadi belajar ekstra. Banyak kata-kata baru istilah kesehatan yang saya pelajari,” sebutnya.

Selain itu, kesabaran menjadi kunci dalam pekerjaannya, terutama saat menghadapi pasien pekerja Tiongkok yang terkadang sulit diarahkan. Perannya tidak sekadar menerjemahkan bahasa, tetapi juga memastikan pesan medis tersampaikan dengan tepat. Dalam situasi tertentu, ia dituntut memiliki kesabaran ekstra, terutama saat menghadapi pasien yang sulit diarahkan. Di sinilah ketangguhan dan empatinya diuji setiap hari.

Namun, di balik tantangan tersebut, Bungsu dari empat bersaudara itu menemukan makna yang lebih dalam. Pekerjaan ini bukan hanya tentang penghasilan, tetapi juga tentang kontribusi dan kebermanfaatan. Ia bahkan berhasil mewujudkan salah satu impian besar: memberangkatkan ibunya untuk umroh.

Lebih dari itu, perjalanan kariernya juga mempertemukannya dengan pasangan hidup. Setelah dua tahun bekerja di IWIP, ia menemukan jodohnya seorang perawat di WMC yang kemudian menjadi pendamping dalam hidupnya.

Kisah Dahlia menjadi refleksi bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk bangkit dari keterbatasan. Jalan hidup memang tidak selalu sejalan dengan rencana, namun dengan ketekunan, keberanian mengambil keputusan, dan kemauan untuk terus belajar, peluang akan selalu terbuka.

Bagi Dahlia, IWIP bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang tumbuh yang membuka berbagai pintu rezeki dan harapan baru membuktikan bahwa perempuan dapat berkarier, berdaya, dan tetap membawa nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap langkahnya.(tim)