Oleh : Sahrianto Maulud

Maba, Memasuki 23 tahun Hari Ulang Tahun Kabupaten Halmahera Timur, pemerintah daerah mengusung tema “Harmoni Untuk Pembangunan Berkelanjutan” sebagai arah besar pembangunan. Tema ini mencerminkan harapan adanya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan di wilayah yang sangat luas.

Dengan luas daratan sekitar 6.571,37 km², Halmahera Timur memiliki potensi sumber daya alam yang besar, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun pertambangan. Namun, luas wilayah ini juga menghadirkan tantangan dalam pemerataan pembangunan dan pengawasan keamanan di wilayah-wilayah terpencil.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Halmahera Timur juga dikenal sebagai salah satu daerah kaya sumber daya tambang nikel. Aktivitas pertambangan ini membawa dampak ekonomi, tetapi juga memunculkan dinamika sosial baru di tengah masyarakat lokal.

Data Badan Pusat Statistik dalam publikasi “Halmahera Timur Dalam Angka 2026” menunjukkan sektor-sektor strategis terus berkembang, disertai upaya pemerintah dan berbagai pihak dalam memperbaiki kualitas data dan perencanaan pembangunan.

Meski demikian, pembangunan berbasis data belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan di tingkat akar rumput, khususnya di sektor pertanian yang masih menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakat pedesaan.

Para petani di wilayah seperti Maba Selatan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari akses infrastruktur, distribusi hasil panen, hingga persoalan keamanan di lahan pertanian mereka.

Salah satu isu yang belakangan sering dikeluhkan warga adalah adanya gangguan keamanan yang diduga dilakukan oleh oknum tidak dikenal (OTK), yang menimbulkan rasa takut di kalangan petani.

Walaupun istilah OTK bersifat umum, dalam praktiknya masyarakat kerap mengaitkan peristiwa tersebut dengan aksi kriminalitas yang terjadi secara sporadis di area perkebunan dan jalur kebun.

Kondisi ini menyebabkan sebagian petani merasa tidak tenang saat bekerja di kebun, terutama mereka yang harus beraktivitas jauh dari permukiman utama.

Padahal, sektor pertanian adalah tulang punggung ekonomi rumah tangga di banyak desa di Halmahera Timur, sehingga gangguan keamanan sekecil apa pun berdampak langsung pada kesejahteraan.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, keamanan sosial seharusnya menjadi fondasi utama agar program ekonomi tidak hanya berjalan di atas kertas. Namun di lapangan, masih terdapat kesenjangan antara visi pembangunan dan realitas yang dihadapi masyarakat di daerah terpencil.

Di sisi lain, pendekatan keamanan semata tidak cukup tanpa disertai pembangunan sosial yang menyentuh akar masalah, seperti kemiskinan, pengangguran, dan kurangnya akses pendidikan. Jika tidak ditangani secara komprehensif, situasi ini berpotensi menurunkan minat generasi muda untuk melanjutkan pekerjaan sebagai petani.

Hal ini menjadi tantangan serius, karena keberlanjutan sektor pertanian sangat bergantung pada regenerasi petani di masa depan sehingga Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada sektor tambang nikel, tetapi juga pada ketahanan pangan lokal dan perlindungan petani. Ketimpangan perhatian antara sektor tambang dan pertanian dapat memicu rasa ketidakadilan sosial di masyarakat pedesaan.

Dalam momentum 23 tahun Halmahera Timur, refleksi pembangunan seharusnya tidak hanya melihat capaian ekonomi, tetapi juga rasa aman dan nyaman warga Masyarakat di Maba Selatan dan wilayah lain membutuhkan kepastian bahwa mereka dapat bekerja di kebun tanpa rasa takut.

Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan tokoh masyarakat menjadi penting untuk menciptakan sistem perlindungan yang efektif.

Selain pendekatan keamanan, penguatan ekonomi lokal juga perlu dilakukan agar masyarakat tidak terlalu rentan terhadap tekanan sosial dan ekonomi. Program pemberdayaan petani, akses pasar yang lebih baik, serta infrastruktur jalan tani harus menjadi prioritas pembangunan.

Jika sektor pertanian diperkuat, maka ketergantungan masyarakat pada sektor lain yang lebih fluktuatif dapat dikurangi. Dalam jangka panjang, stabilitas sosial akan lebih mudah tercapai apabila kesejahteraan petani meningkat secara merata.

Halmahera Timur memiliki peluang besar untuk menjadi daerah yang maju dan berkelanjutan jika seluruh sektor dibangun secara seimbang. Namun, tanpa perhatian serius terhadap isu keamanan di lapangan, khususnya terkait gangguan OTK, maka pembangunan dapat terhambat.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan terpadu yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif dalam menjaga keamanan wilayah pertanian. Pemerintah juga perlu membuka ruang dialog dengan masyarakat desa untuk memahami langsung akar persoalan yang mereka hadapi. Dengan begitu, kebijakan yang dihasilkan tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, semangat “Harmoni Untuk Pembangunan Berkelanjutan” akan benar-benar bermakna jika keamanan, kesejahteraan, dan keadilan sosial dapat dirasakan hingga ke tingkat petani di desa-desa terpencil.

Diclamer: Tulisan ini Saya buat Untuk Menghormati Pejuang dan Leluhur Selamat Ulang Tahun Negeri Ku yang ke 23 Tahun.